Rezeki itu dijemput bukan ditunggu

0

 

terminal, bus, merantau, perantau, pergi jauh

 

Juni 2012,

Satu persatu temanku pamit untuk berangkat menuju mimpi meraka, ya tepat 1 malam setelah pesta kelulusan dimana aku baru bangun dengan muka mengantuk dan pikiran suntuk karna tak kunjung ada perusahaan yang menyatakan aku diterima. Ya nasibku masih terombang ambing tak jelas, beberapa perusahaan yang aku ikuti tesnya masih belum memberi pengumuman, beberapa yag lain belum jelas kapan mulai bekerja, sementara perusahaan yang datang kesekolah semakin surut saja.

Hari ini aku pergi ke sekolah sebagai alumni, ya alumni karna kami baru saja diwisuda kemarin hari. Papan pengumuman, sekarang ini spot favoritku. Aku tak sendiri ada beberapa teman yang senasib denganku, salah satunya Tya. Kami mengobrol berdua dan terlarut dalam kegalauan pengacara (pengangguran banyak acara). Minggu depan beberapa perusahaan kembali mengadakan recruitment, tapi dikantor mereka dijakarta, sementara beberapa perusahaan yang telah kami lalui tes nya masih belum jelas kapan menerbitkan pengumuman. Sejenak kami berpandangan dalam hening, berbagai argumen berperang didalam hati. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat ke jakarta.

Kami kontak beberapa kakak kelas yang sudah berdomisili disana, tanpa menghiraukan rasa malu kami mengajukan diri untuk numpang beberapa hari disana. Kemudian googling alternatif transportasi, mendatangi stasiun dan agen bus, menanyakan tarif, jadwal keberangkatan, dan tujuan kedatangan.

Kembali kerumah walaupun dengan sedikit rasa takut aku menyampaikan maksud keberangkatanku ke Jakarta kepada kedua orang tuaku. H-2 aku berkunjung kerumah saudar adan kerabat dekat untuk berpamitan. H-1 packing buku, pakaian, dan peralatan segala macam. Hari H tiba, meluncur ke terminal dan menaiki bus yang akan berangkat. Ibuku tak henti menciumiku, kupeluk dia, kuusap punggungnya mencoba menguatkan, Ibu aku bisa, aku akan baik-baik saja. Ayahku yang selama ini tegar tiba-tiba saja menangis, aku jatuh pasrah dalam pelukannya yang erat tak lagi kuasa untuk membendung air mata. Kamu pasti bisa, semangat ya nak, ayah bangga padamu. Kemudian aku menciumnya, mencium tangan keduanya, dan memeluk adikku. Aku langsung berpaling dan menaiki bus, aku tak ingin kecengengan sesaatku ini menggugurkan niatku untuk pergi.

Rezeki bukan bis yang ditungguin dihalte. Dia adalah buah diatas pohon yang kalau kepengen harus manjat dulu. Semakin tinggi rezeki yang diinginkan, semakin berat perjuangan.

Rezeki itu seperti cowo, mereka tidak mengerti #kode, kita harus to the point dan langsung take action kalau ingin mendapatkannya.

Memang benar rezeki itu di tangan Tuhan dan tidak akan kemana. Ya, tidak akan kemana-mana jika kita tidak berusaha untuk menjemputnya.

Datangi dan jemput rezekimu. Mari kami bantu 🙂

Advertisements